Miliyaran cita-cita tergantung di puncak langit, sejak manusia diciptakan hingga saat ini. Warnanya beragam, tak ada yang sama. Namun, seiring perputaran waktu, gantungan-gantungan itu ada yang jatuh sampai menembus bumi dan akhirnya terkubur, ada juga yang tetap bertahan walaupun warnanya semakin pudar, dan ada pula yang bertahan, semakin kokoh, semakin berwarna, dan semakin tinggi menembus bola langit.
Orang-orang yang dikenal saat ini adalah mereka yang mampu menerbangkan cita-citanya lebih tinggi daripada langit. Raga mereka bisa saja pergi, namun nama dan jasa mereka tetap dikenang sampai sekarang dan akan terus sampai nanti. Mereka adalah beberapa manusia terpilih yang mampu menunjukkan bahwa cita-cita itu membawa menuju keabadian.Tak berbatas dan tak berujung, itulah cita-citaku. Sampai saat ini, tak begitu jelas ingin menjadi apa aku nantinya. Ingin menjadi dokter, jurnalis, pengusaha sukses, astronot, fisikawan, matematikawan, dan segudang cita-cita mulia lainnya tertanam dalam hatiku. Yang pasti, satu hal, aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi semua ciptaan Tuhan.Langit tak pernah penuh, meskipun miliyaran cita-cita tergantung. Sebesar apapun cita-citaku, aku yakin, langit masih cukup luas untuk menampungnya. Tugasku kini, adalah meraih apa yang sudah ku gantungkan itu. Tinggi memang, tapi ada semangat yang lebih tinggi daripada itu. Kalau tokoh-tokoh besar bisa meraih cita-citanya, mengapa aku tidak bisa? Aku tahu, keluargaku bukan keluarga kaya, aku juga sadar keluargaku tak selengkap keluarga lain. tapi, lagi-lagi tokoh besar dalam kehidupan ini mengingatkanku untuk terus semangat, mereka juga banyak yang dilahirkan dalam keadaan yatim di keluarga lemah mereka. Mereka seolah-olah menyadarkanku, bahwa tidak cukup untuk meraih cita-cita hanya dengan materi, tapi lebih dari itu, ada sesuatu yang sangat dibutuhkan yang tak akan ternilai oleh rupiah, itulah SEMANGAT. Ya, semangat. Tak bisa dibeli, hanya bisa didapat dengan kesadaran untuk bekerja keras meraih cita-cita. Banyak orang mengatakan mereka memiliki kesadaran, tapi mereka tak pernah menujukkan kesadaran itu dengan usaha. Mungkin sebelum menulis ini, aku termasuk orang yang seperti itu, tapi sejak saat ini aku ingin berjanji pada diriku sendiri, aku akan berusaha.Tuhan sudah membuatkan jalan menuju cita-cita di langit. Jalannya menanjak, semakin tinggi cita-cita itu semakin besar sudut elevasi tanjakan itu. Dan dunia sudah membuktikan, lebih banyak manusia yang menyerah sebelum sampai. Dan akhirnya, cita-cita mereka terpaksa menjadi mimpi “penghias tidur” belaka. Cita-cita mereka dibiarkan jatuh dan menjadi sampah. Hilang. Tanpa dikenal. Aku sama sekali tidak ingin seperti itu. Aku tidak ingin menyerah ditengan jalan menanjak itu. Aku tahu umurku tak akan bisa bertambah, jika aku menyerah, umurku tak akan cukup untuk kembali ke pendakian panjang itu. Sekali menyerah artinya tidak untuk selamanya.
Ketika
aku mati nanti, aku tak ingin dilupakan begitu saja. Tapi, kalau aku belum bisa
meraih cita-citaku, bagaimana aku bisa tetap dikenang? Pertanyaan semacam itu
sering menghinggapi pikiranku. Dan aku merasakan seolah-olah ada energi luar
biasa didalamnya, dan itulah sebagai pembakar semangatku. Dan aku berdoa semoga
semangat ini terus bertambah.
Ketika
aku mati nanti, aku tak ingin dilupakan begitu saja. Tapi, kalau aku belum bisa
meraih cita-citaku, bagaimana aku bisa tetap dikenang? Pertanyaan semacam itu
sering menghinggapi pikiranku. Dan aku merasakan seolah-olah ada energi luar
biasa didalamnya, dan itulah sebagai pembakar semangatku. Dan aku berdoa semoga
semangat ini terus bertambah.
Umurku
kini sudah 17 tahun, sudah lama aku di dunia ini. Belum ada sesuatupun yang aku
hasilkan. Kerugian besar bagiku. Karena hidup ini adalah arena pertandingan
untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi sesama. Keberhasilan itu tergantung
besarnya manfaat kita. Sudah saatnya aku mempercepat lariku dalam menaiki jalan
menuju cita-cita itu. Aku sudah tertinggal jauh dengan teman-temanku. Biarlah
hari kemarin menjadi sejarah akan lemahnya aku dan semangatku, kini aku ingin
berubah. Persimpangan jalan menanjak itu sudah dekat, jangan sampai aku
berbelok dan akhirnya jatuh. Aku harus berusaha dan belajar lebih keras lagi.
lebih keras lagi. sekeras-kerasnya. Karena kesempatan tak akan pernah terulang.
Umurku
kini sudah 17 tahun, sudah lama aku di dunia ini. Belum ada sesuatupun yang aku
hasilkan. Kerugian besar bagiku. Karena hidup ini adalah arena pertandingan
untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi sesama. Keberhasilan itu tergantung
besarnya manfaat kita. Sudah saatnya aku mempercepat lariku dalam menaiki jalan
menuju cita-cita itu. Aku sudah tertinggal jauh dengan teman-temanku. Biarlah
hari kemarin menjadi sejarah akan lemahnya aku dan semangatku, kini aku ingin
berubah. Persimpangan jalan menanjak itu sudah dekat, jangan sampai aku
berbelok dan akhirnya jatuh. Aku harus berusaha dan belajar lebih keras lagi.
lebih keras lagi. sekeras-kerasnya. Karena kesempatan tak akan pernah terulang.
Saatnya
membalas semua kebaikan orang-orang yang menyayangiku, terutama ibu dan
kakak-kakakku. Mereka sudah meneteskan keringat untukku, aku tak boleh
mengecewakan lagi, aku harus membuktikan bahwa usaha mereka menghidupiku selama
ini tidak sia-sia.
Saatnya
membalas semua kebaikan orang-orang yang menyayangiku, terutama ibu dan
kakak-kakakku. Mereka sudah meneteskan keringat untukku, aku tak boleh
mengecewakan lagi, aku harus membuktikan bahwa usaha mereka menghidupiku selama
ini tidak sia-sia.
coretan yg bagus gann!
ReplyDeletehere just BW n support you
thanks for ur motivation.....
Deleteoke....its my job now!
Delete