14 sept 2013


Merayakan ulang tahun adalah suatu hal aneh dan belum saya mengerti apa maksud serta tujuannya. Oke, maaf beribu maaf. Bukannya saya tidak menyetujui adanya perayaan ultah, bukannya saya tidak menyukai orang yang merayakan ultah, bukan itu. Saya juga sering menghadiri perayaan ultah teman-teman saya. Jadi tulisan ini sama sekali tidak mengucilkan orang yang merayakan ultahnya. Ini hanya ungkapan pendapat saya. 100% subjektifitas saya.

Sudah sering saya menghadiri perayaan ulang tahun dari teman-teman. Kebanyakan perayaan ultah yang dilakukan berupa makan bersama di rumah teman yang sedang ulang tahun atau meneraktir di luar. Tidak lebih dari sekedar perayaan kebahagiaan. Orang yang ulang tahun biasanya sangat bahagia, tertawa dengan begitu lepas, saling lempar dengan telur/kue/tepung. Hari ulang tahun seolah-olah hari kemenangan yang luar biasa dan pantas dirayakan dengan semeriah-meriahnya.

Namun, berbeda dengan kebanyakan orang, ketika tanggal 18 februari tiba, saya selalu bersedih. Kesedihan yang saya alami setiap ultah itu bukan berarti mengurangi rasa syukur saya kepada sang Maha Kuasa atas karunia berupa panjangnya usia yang diberikan. Hal yang biasa saya lakukan pada hari ultah adalah menghabiskan waktu untuk merenung dan memikirkan apa yang sudah maupun yang belum saya lakukan. Saya selalu merasa belum siap untuk menginjak usia sedimikian banyak. Sekarang, 17 tahun sudah saya hidup di dunia ini, tapi sungguh masih banyak hal yang belum saya lakukan, termasuk membahagiakan orang tua, kedua kakak, dan orang-orang terdekat saya. 17 tahun yang saya lalui hanya untuk menyusahkan mereka. Selain itu, hal yang membuat saya sedih adalah semakin berkurangnya sisa usia. Setiap detik yang berlalu dalam hidup ini semakin mendekatkan saya pada dunia kesejatian, yaitu mati. Setiap ulang tahun itu menjadi pengingat bahwa sisa usia saya berkurang satu tahun. Semakin dekat, dan semakin dekat. Tidak akan ada kata menghindar dari kematian. Cepat atau lambat, siap atau tidak, saya pasti dijemput oleh sang Malaikat Maut. Apa yang terjadi setelah saya pergi meninggalkan dunia ini?. Masihkah saya dikenang oleh keluarga, sahabat dan teman-teman?. Atau mereka akan melupakan saya begitu saja. Setelah pergi nanti, tidak akan ada yang bisa memaksa mereka untuk mengingat saya. Wajar jika mereka lupa, karena saya belum menghasilkan apa-apa untuk mereka.

Atas kekhawatiran itulah, saya tidak pernah sebahagia orang lain hari ulang tahun, itu sebabnya saya tidak pernah merayakan ultah barang sekalipun.

Tapi, sekali lagi saya tekankan, bukannya saya tidak setuju dengan perayaan ulang tahun. Silahkan bagi anda yang merayakan, rayakanlah dengan niat untuk mensyukuri usia yang telah diberikan-Nya. Tapi satu hal yang ingin saya pesankan; jangan melupakan arti dan makna dari ulang tahun itu sendiri. Sesungguhnya itu adalah pemberitahuan atas banyaknya nikmat Allah yang telah anda terima sekaligus sebagai peringatan bahwa sisa usia anda semakin berkurang.

APA HADIAH ULANG TAHUN YANG TERBAIK?

Nasehat. Ya, itulah hadiah ulang tahun yang paling indah. Saling mengingatkan tentang kebenaran. Sangat disayangkan jika ada yang memberikan hadiah ulang tahun yang tidak nyambung dengan hakikat ulang tahun itu sendiri. Beberapa hari yang lalu, sempat saya bertanya kepada seorang teman tentang apa hadiah ulang tahun yang akan tepat untuk sahabat saya, zakia. Teman itu menjawab “berikan saja cokelat”. Tawa kecil langsung muncul setelah mendengar jawaban itu. Apakah tidak boleh memberikan hadiah berupa cokelat?. Mengenai hal ini tidak ada larangan, boleh-boleh saja memberikan hadiah cokelat, boneka, atau apapun. Tapi alangkah lebih baik jika hadiah yang diberikan adalah sesuatu yang bermanfaat dan bisa dikenang. Dan setiap kali memberikan hadiah, tolong jangan dilupakan point pertama, nasehat. Sertakan nasehat disetiap hadiah ulang tahun yang anda berikan.

0 komentar:

Post a Comment

 
Top