Apakah Anda takut mati?
Saya yakin kebanyakan dari manusia adalah takut terhadap sesuatu yang namanya kematian. Tapi sungguh miris, Kita banyak takut hanya kepada kematian sedangkan sedikit dari Kita yang takut kepada hal-hal yang mematikan.
Sebenarnya, kematian itu banyak sekali jenisnya. Tapi yang ditakuti secara sadar hanyalah kematian dimana Kita tak bisa lagi bernafas dan melihat dunia. Dan ketika Kita ditanya, “kenapa Anda takut mati?” jawabannya hanyalah, ” belum siap, karena saya masih banyak dosa”. Tapi tanpa Kita sadari, dosa ataupun kesalahan itu semakin hari semakin menumpuk didalam diri Kita.
Kalau Kita mendengar pertanyaan seperti diatas, itu sejatinya adalah peringatan Tuhan yang di berikan kepada Kita lewat makhluk ciptaannya. Dan sesungguhnya, pertanyaan tersebut sangat sering Kita dengar, walaupun tidak selalu lewat mulut manusia, Tuhan punya banyak cara untuk menyampaikan peringatan itu. Tuhan memberikannya lewat saudara Kita yang meninggal, teman Kita yang kecelakaan, dan beribu-ribu cara lain. Tapi sayang, Kita sebagai manusia, terlalu tuli untuk mendengar peringatan terbaik itu.
Entah berapa juta detik waktu yang telah diberikan Tuhan untuk Kita mendengar hal itu. Tapi sekali lagi, telinga, pikiran, dan hati Kita sudah ditulikan oleh dosa.
Kita sebagai manusia sering melupakan kematian, lupa bahwa hidup ini akan berakhir. Kalau untuk urusan setelah kematian (urusan akhirat), Kita selalu menunda-nunda, bahkan melupakannya, Kita terlalu sibuk dengan tipu daya dunia, terlalu sibuk mengejar materi, materi, dan materi. Dan hal itulah yang menyebabkan hidup Kita terasa dalam kegelapan, Kita adalah orang yang tersesat oleh tipu daya materi. Kita tidak pernah bersyukur dan memikirkan apa yang Kita punya, tapi Kita selalu memikirkan apa yang belum Kita punya. Bahkan nafas yang begitu bernilai dan tak terharga pun tidak pernah Kita syukuri. Kita selalu merasa kurang, dan tak pernah merasa cukup. Rasa-rasa itulah yang menyebabkan hidup Kita tak pernah tenang, karena rasa itu pula Kita sibuk mencari materi, dengan alasan untuk bisa mendapatkan kebahagiaan hidup, solah-olah kebahagiaan hanya bisa didapat dengan materi, sehingga manusia berlomba-lomba mengejar kedudukan yang tinggi, bahkan tak sedikit yang menghalalkan cara yang haram. Dan kita menyebut kegiatan mencari materi itu sama dengan mencari kebahagiaan. Pola fikir seperti inilah yang menyiksa Kita, karena Kita mencari apa yang tidak pernah bisa dicari. Yakinlah kebahagiaan itu tidak untuk dicari, karena kebahagiaan ada dalam diri Kita sendiri, kunci untuk mengeluarkan kebahagiaan dari dalam diri Kita itu adalah mensyukuri segala yang telah ada, dari yang terkecil sampai yang tak ternilai seperti nafas yang masih Anda hembuskan saat membaca tulisan ini.
Kalau kita mau berfikir dan memahami arti hidup yang sesungguhnya, tentunya kita tidak akan terjerumus kepada kenikmatan palsu yang ditawarkan oleh dunia. Apa sih yang kita inginkan didunia yang cuma sebentar ini, berapa lama sih umur kita, anggaplah Tuhan memberikan waktu 60 tahun untuk hidup, itupun perrlu anda ingat bahwa 60 tahun itu bukan bersihnya, kalau dihitung-hitung seperti ini:
• Usia 0-5 tahun : kita belum mengenal dunia, dalam artian kita hanya mengenal nama sendiri dan keluarga
• Usia 6-12 tahun : mengalami masa kanak-kanak, belum bisa memahami hidup
• Usia 13-20 tahun : menginjak remaja, dimana banyak dari kita jarang memikikirkan masalah hidup dan masalah setelah hidup.
• Usia 20-60 tahun : barulah manusia memahami hidup.
Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa kita sebagai manusia hanya memiliki waktu 40 tahun untuk hidup dan mengerti tentang hidup. Yang 40 tahun itupun banyak waktu yang kita buang-buang. Sekarang, coba anda fikirkan apa yang bisa kita lakukan dalam waktu yang singkat itu, untuk memohon ampunan Tuhan saja waktu sedemikian singkat tak cukup untuk dosa kita yang menggunung.
Dunia memang menawarkan sesuatu yang membutakan hati dan pikiran, sehingga setelah tawaran itu diiterima, banyak orang yang tersesat, lupa terhadap yang memberinya kebahagiaan itu, bahkan manusia bisa saja melupakan dirinya sendiri. Dan banyak juga orang yang tak sempat menikmati hidupnya karena tipuan dunia...... (Bersambung)
Nantikan lanjutannya ya..
Writing By: Rowi Alfata
0 komentar:
Post a Comment