“Bagaimana hasil lomba cerdas-cermatnya tadi?”
kata pak Acan, petugas kebersihan di sekolah kami. Ia berjalan ke arah kami
yang sedang duduk di tengah-tengah perpustakaan.
“kalah pak..
poinnya cuma beda satu soal, itupun di soal tambahan.” Jawab kami, lemas.
“Ooo.. sabar.
Belum waktunya. Apapun dan bagaimanapun usaha yang kita lakukan, kalau Allah
belum menghendaki, ya kita akan gagal, semuanya sudah ditentukan oleh Allah.”
Ceramahnya. Kalimat ini diulang berkali-kali, sampai kami keluar dari
perpustakaan Ia masih mengulangnya. Awalnya, kata-kata yang diucapkan lumayan
memotivasi kami, khususnya saya. Tapi lama-kelamaan, kok saya merasakan ada
yang janggal dengan kalimat itu. kita sudah berusaha keras, tapi tidak menang,
apakah ini Tuhan ketetapan Tuhan, apakah Tuhan tidak menghargai usaha kami.
Untuk itu saya menulis artikel ini sebagai ungkapan kata hati saya tentang
takdir.
Ketika sebuah bencana terjadi,
manusia akan mengatakannya sebuah takdir. Ketika kegagalan datang, manusia akan
mengatakan itu takdir. Ketika jalan hidup tak sesuai harapan, ketika berbuat
maksiat, manusia juga akan mengatakan takdir. Semua yang terjadi seolah-olah
kesalahan si “takdir”.
Persoalan
mengenai takdir memang sudah banyak menimbulkan kontroversi. Tak sedikit dari
kita, kalangan muslim yang tidak menemukan korelasi antara takdir dan usaha
yang dilakukan. Bahkan, tak sedikit juga yang “malas” atau tidak berani untuk membahas takdir dengan dalih sulit
dan terlalu rumet untuk dimengerti dan takut menjadi sesat, akhirnya mereka
meng-imani takdir dengan terpaksa. Na’udzubillahiminzalik. Mungkin kita juga
seperti itu. padahal hal tersebut sangat penting dan tidak ada tawar-menawar,
kita harus yakin 100%, karena resikonya akan mengganggu keimanan terhadap-Nya.
Sebagaimana
rukun iman yang lain, iman kepada takdir juga harus dengan kemantapan dan
kejernihan hati yang tidak ada keragu-raguan lainnya. Tidak mudah memang. Tapi
jika kita masih mau beragama dengan benar, kita harus melakukannya. Tak akan
ada gunanya, shalat, dan amalan-amalan lain yang kita lakukan jika kita masih
meragukan salah satu dari rukun iman.
Kesalahan
dalam memahami takdir akan menyebabkan dua pemahaman ekstrim. Pertama, ada
diantara mereka yang akan berkeyakinan bahwa manusialah yang berhak dan diberi
wewenang sepenuhnya untuk berbuat apapun serta segala sesuatu itu terjadi
karena andil manusia. Paham inilah yang dinamakan Qadariyah. Kedua, sebagian berkeyakinan bahwa Allah telah
menciptakan perbuatan manusia dan manusia mau tidak mau harus melaksanakan
kehendak Allah tanpa memiliki alternatif. Dengan kata lain, manusia “dipaksa”
dan pasrah tanpa melakukan usaha apapun. Paham inilah yang disebut Jabariah. (Qhada’ dan Qadar, Syaikh Muhammad Shalih Al’ Utsaimin)
Dari
pandangan penulis, kedua pemahaman ekstrim diatas tidak salah, namun tidak juga
benar 100%. Sebab, pada pemahaman pertama, manusia yang menentukan semuanya,
bukan Tuhan. Ini tentu kurang tepat. Kemudian, pada paham yang kedua, manusia
hanya sebagai objek kehidupan, bukan subjek, segala sesuatu sudah ditentukan
oleh Tuhan dan manusia tidak mempunyai kewenangan apapun untuk merubah.
Pendapat yang kedua ini akan melahirkan pola pikir yang pasif, tidak mau
berusaha, bahkan lebih parahnya orang yang berbuat kejahatanpun akan memakai
dalih takdir. Contohnya, sudah ditakdirkan untuk menjadi perampok, sudah
ditakdirkan untuk malas, sudah ditakdirkan untuk bodoh. Na’udzubillah. Lalu,
bagaimana kita harus mengimani takdir, sehingga kita tidak salah jalan?
Begini, kita harus memposisikan
diri ditengah-tengah antara kedua paham tersebut. Dengan kata lain, kita harus
percaya bahwa ada hal-hal yang memang sudah ditetapkan dan tidak bisa dirubah,
tetapi tidak semua, ada juga yang harus kita usahakan, kita diberi kemampuan
berpikir, kemampuan berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Contoh seorang
siswa yang mendapat ranking terakhir dikelas, tidak boleh menganggap bahwa ia
sudah ditakdirkan untuk bodoh, tapi ia harus berusaha untuk lebih rajin lagi.
Bukankah didalam Al Qur’an Allah sudah mengatakan bahwa Ia tak akan mengubah
keadaan suatu kaum kecuali kaum itu sendiri mau mengubahnya. Dan yakinlah,
semua usaha dan kerja keras yang anda lakukan akan diberikan imbalan oleh-Nya.
Tak ada yang sia-sia. Mungkin imbalan yang diberikan tak seperti yang kau
inginkan, tapi yang pasti diberikan adalah imbalan yang kau butuhkan.
0 komentar:
Post a Comment