Dear sirrius, Dewa Bintangku..
            Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu. Aku cerita kepadamu karena kalau aku menceritakannya pada manusia, mereka pasti sulit mengerti, malah mungkin mereka akan menganggapku sombong.
Besok, usiaku tepat 17 tahun. Cepat sekali rasanya. Jujur, aku belum siap. Tapi kenyataan sudah bicara dan tak bisa di elakkan lagi. Tanggal 18 besok aku akan menjadi seorang yang sudah berusia dewasa. Aku merasa waktu terlalu cepat membawaku ke titik usia ini. Aku masih terlalu manja, masih bergantung pada orang tua, cara pikirku masih kekanak-kanakan, apalagi sikapku. Sekali lagi ku katakana padamu, “AKU BELUM SIAP”.
Sirrius, perasaan bersalah itu kini datang lagi. Bersalah belum memberikan apa-apa untuk keluarga, untuk Ibu yang selama ini membiayai segala kebutuhanku termasuk sekolah. Bersalah pada Ayah, saat Ayah pergi dulu aku masih belum mengerti kehidupan, dan aku tak memberikan kenang-kenangan berarti untuk Ayah.
Sirrius, apakah menurutmu aku sudah pantas berusia 17 tahun? Apakah aku sudah pantas memiliki sebuah KTP? Apakah aku pantas untuk ikut dalam pemilihan umum?. Jawabanmu mungkin tak jauh berbeda dengan aku. Belum pantas. Terlebih untuk memiliki sebuah KTP, yang artinya aku sudah mempunyai hak dan kewajiban kepada negaraKu. Apalagi ikut serta dalam demokrasi melalui pemilu, aku belum mengerti apa-apa, aku tak tahu siapa yang harus kupilih dan mengapa aku harus memilih dia. Aku tak mau asal-asalan memilih, karena Tuhan akan memberikan ganjarannya.
Sirrius, ini adalah dunia kenyataan, bukan dunia dongeng yang selalu indah seperti apa yang aku  bayangkan. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Waktu sudah terlanjur mengatakan aku sudah 17 tahun ada dan hidup di dunia ini. Itu artinya jatah usia yang diberikan Tuhan sudah berkurang banyak. Ada kekhawatiran dibalik semua itu. aku khawatir kalau Tuhan memanggilku menuju dunia yang sejati pada usia 17 tahun ini, atau pada usia 18, 19, atau entahlah. Semenntara aku belum melakukan apa-apa. Bagaimana aku akan dikenang oleh keluarga, guru, sahabat dan teman-teman sejak kecil, SD, SMP, sampai SMA. Bagaimana mereka akan mengenangku?
Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat, “apakah aku akan dikenang?”
            Sirrius, beberapa jam lagi tanggal 18 Februari akan datang. Apa yang aku katakana nanti jika Dia menanyakan puluhan juta detik yang sudah aku lalui. Apa yang sudah aku lakukan?. Kemana saja aku melangkahkan kaki-Nya ini?.
            Ah, aku tak mau terlalu memikirkan hal-hal yang sudah berlalu apalagi yang belum terjadi. Sekarang aku masih bernafas dan masih bisa bergerak bebas. Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kini aku akan lebih focus pada cita-cita dan tujuan hidupku. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan indah ini.

0 komentar:

Post a Comment

 
Top