Sebenarnya antara “dua dunia” ini tidak ada pemisah, keduanya sama. Tapi begitu banyak yang menganggap bahwa kedua dunia ini jauh berbeda, sehingga mereka beranggapan ada tembok besar nan kokoh yang memisahkan antara remaja dan orang dewasa.
Pemikiran seperti ini sudah banyak kita temui, bahkan mungkin diri kita sendiri setuju dengan pendapat: “Dunia Remaja terpisah dengan Dunia Dewasa”.
Kebanyakan, yang mempunyai pemikiran ini adalah para remaja. Mereka menganggap berada di posisi inferior sedangkan orang dewasa seperti orang dewasa ada di posisi superior.
Hal ini dapat dipahami karena masa remaja adalah masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, sehingga pada masa ini remaja akan berusaha mencari jati diri dan ingin melepaskan diri dari bayang-bayang orang tua. Dan yang menjadi sumber masalah antara remaja dan orang dewasa (dalam hal ini orang tua) adalah remaja ingin bebas, sementara orang tua ingin tetap mengawasi. Dalam hal ini sering terjadi perselisihan yang dikarenakan perbedaan sudut pandang.
Indikasi datangnya masa remaja diantaranya adalah: mencari jati diri (tapi masih mematuhi aturan-aturan orang tua), mengalami perubahan hormonal dan mulai memperhatikan penampilan. Itu adalah tanda-tanda secara umum, adapun tanda-tanda “khusus” yang kebanyakan dialami adalah: remaja menyatakan kebebasan dalam upaya mencari jati diri, berperilaku membrontak, menganggap teman lebih penting dari keluarga sehingga kebanyakan waktunya dihabiskan di luar rumah. Pada kondisi seperti ini, perhatian dari keluarga sangat penting, karena begitu banyak ancaman dan godaan untuk remaja di zaman yang serba modern ini.
Kembali ke topik permasalahan,
Sebagian remaja mengatakan bahwa orang dewasa hanya memaksakan kehendaknya pada remaja dengan alasan untuk kebaikan, tapi remaja sendiri tidak pernah dilibatkan untuk memilih mana yang terbaik menurutnya.
Pendapat diatas bisa salah dan bisa juga benar.
Pendapat tersebut salah manakala orang dewasa memang benar-benar mempunyai niat baik untuk sang remaja. Tapi, niat baik itu dianggap sebagai suatu ke-egoisan, sebenarnya, dalam kondisi seperti ini, remaja-lah yang egois egois, merasa harus dituruti keinginannya. Ia menutup mata akan niat baik orang dewasa yang ingin mengatur dan membuat hidupnya lebih baik.
Lebih parah, ada juga yang mengatakan bahwa orang dewasa tidak tahu cara mengungkapkan cintanya, sehingga mereka bersikap mengatur.
Ya, sulit memang menanamkan pemahaman bahwa orang dewasa itu punya niat baik. Mereka sebagai remaja malah mengatakan kalau orang dewasa yang tidak tahu cara mengekspresikan niat baiknya. Sebenarnya disinilah terlihat betapa egoisnya remaja (tidak semua). Mereka menganggap diri lebih tahu tentang hidup dan bagaimana harus mengungkapkan cinta. Jelas, suatu kekeliruan. Dari tulisan ini, saya mengajak sahabat-sahabat remaja, bahwa bukan mereka yang harus mengikuti semua keinginan kita, tapi justru kita-lah yang seharusnya mengikuti mereka. Karena mereka lebih banyak makan garam kehidupan. Mereka lebih mengerti tentang hidup yang seharusnya.
Mungkin pendapat saya diatas terkesan memihak kepada orang dewasa. Tapi, sesungguhnya bukan itu maksud saya. Dalam hal ini, kita tidak boleh berdiri di salah satu pihak, tidak boleh hanya menyalahkan remaja, namun juga harus melihat bagaimana sikap orang dewasa yang dilawan oleh remaja tersebut. Apakah memang pantas untuk di turuti atau tidak. Pendapat diatas berlaku untuk remaja yang berlabel: “ngeyel”. Bagaimana tanda-tanda remaja ngeyel yang saya maksud?
Tandanya tidak lain adalah melawan orang tua yang berniat baik untuk mengatur hidupnya.
Seperti yang sudah saya tuliskan diatas, kita tidak boleh hanya menyalahkan remaja, karena itu pendapat yang bisa saja benar dan sesuai kenyataan dimana sikap otoriter di tunjukkan oleh orang dewasa, remaja di anggap sebagai boneka.
Solusi terbaik dari saya adalah membicarakan masalah secara bersama, saling mendengarkan, saling memahami, dan tidak terlalu egois.
Untuk para orang dewasa termasuk orang tua, saya juga sebagai remaja menyarankan beberapa hal yang kami butuhkan dalam masa-masa peralihan kami ini. Berikut adalah diantaranya:
- Pahami bahwa remaja sedang mengalami masa peralihan. Komunikasi, perhatian, dan dukungan sangat dibutuhkan.
- Jangan bersifat otoriter dalam mengambil keputusan mengenai anak
- Hargai hasil kerja anak, beri pujian disaat yang tepat.
- Berikan kepercayaan kepada anak untuk memilih tapi tetap dalam kontrol.
- Jangan jadi pengkritik sejati. Kalau memang perlu di kritik, kritiklah dengan baik dan sopan. Remaja sangat sensitif dengan kata-kata kasar.
- Bila orang tua tidak menyukai perilaku anak, beri aturan tegas namun jangan lupa jelaskan secara baik-baik bahwa orang tua menyayangi anak dan ingin anaknya lebih baik.
- Buatlah anak merasa diterima apa adanya.
- Jangan memanggil/menggelari/mengecap anak dengan kata-kata buruk.
- Berikan aturan yang masuk akal, namun tetap tegas.
- Coba untuk mengerti apa yang terjadi pada anak. Dekati dan pahami mereka, jadilah sahabat yang bisa membangkitkan semangat mereka dikala sedih.
Pokok dari 10 poin yang saya paparkan diatas adalah: KOMUNIKASI. Orang tua yang baik adalah orang tua yang berbicara “DENGAN” anaknya, bukan berbicara “KEPADA” anaknya.
Artinya, orang tua tidak boleh memerintah dengan kasar, atau memposisikan diri lebih tinggi dari anak, tapi orang tua harus berbicara dengan hati, tidak terlalu menganggap diri lebih tinggi, ikutilah remaja dalam kebaikan yang mereka pilih, bicaralah sesuai usia dan kemampuan remaja.
Kemudian untuk remaja, saya menyarankan agar tidak terlalu ngeyel dan menuruti nafsu. Ikutilah bimbingan orang tua yang benar, hargai niat baik mereka, dan berusaha membuat mereka merasa benar-benar menjadi orang tua yang berhasil. Ingatlah:
Rasulullah SAW bersabda : "Berbuat baiklah pada orang tua kalian niscaya anak-anak kalian akan berbuat baik pada kalian. Dan jagalah kehormatan kalian, niscaya istri-istri kalian menjaga kehormatannya."
(HR. Ath-Thabrani)
Rasulullah SAW bersabda : "Berbuat baiklah pada orang tua kalian niscaya anak-anak kalian akan berbuat baik pada kalian. Dan jagalah kehormatan kalian, niscaya istri-istri kalian menjaga kehormatannya."
(HR. Ath-Thabrani)
Sekiaan dulu ya sahabatku yang baik hati, semoga apa yang ku tulis ini bermanfaat bagi kita semua. Amiin.
Created By: Rowi Alfata
Note: Jujur selama menulis artikel ini, Aku terharu. Aku mengingat semua kebaikan orang tua.
Terimakasih Untuk Ibu dan Ayah yang telah mendidikku dengan kesabaran. semoga Allah memberikan surga untukMu.
0 komentar:
Post a Comment